BISNIS HARUS KONSISTEN

Dody Zuhdi
0

 


_Ilmu hikmah_

Wayan Supadno


Kawula muda utamanya start up, perlu tahu prinsip bisnis. Bahwa bisnis jika tidak bisa bersinergi akan berkompetisi. Karena rebutan pangsa pasar misalnya, maka harus kompetitif, idealnya dengan inovasi.


Hampir semua supplier/vendor pemasok pasar baik itu untuk negara tujuan ekspor, perusahaan sebagai bahan baku produksi suatu pabrik industri atau ke pasar ritel. Mutlak butuh 5K dan 1H.


Syarat kompetitif 5K dan 1H adalah kualitas terbaik, kuantitas selalu cukup, kontinuitas terjaga sesuai komitmen agar konsisten, kecepatan pelayanan, ketepatan spesifikasi dan harga bisa lomba termurah.


Hampir semua eksportir Indonesia kesulitan dengan aspek " kontinuitas " nya. Jauh lebih sulit mencari pemasok yang konsisten, dibandingkan mencari buyer/pembeli di luar negeri yang kontinuitas.


Karena melayani pasar global miliaran jiwa. Sehingga butuh produsen jumlah besar juga. Agar terjadi keseimbangan, neraca barang dagangan atau manajemen PPIC (Production, Planning and Inventory Control).


Bayangkan saja, jika kita punya pabrik produk tertentu di luar negeri dengan bahan baku tertentu. Pasti PPIC-nya mutlak harus terjaga agar mutu produk bagus, dibutuhkan bahan baku formula yang pas. Jika tidak ?


Sama halnya skala kecil pada usaha saya. Formulasi dan produksi pupuk hayati merek Bio Extrim, pupuk organik merek Organox, hormonal merek Hormax dan biopestisida merek Bomax. Jumlah harus ada sesuai proporsinya ada 16 item.


Jika belum genap 16 item dan jumlahnya sesuai ukuran rasio rumusnya. Tidak bisa diproduksi. Harus sesuai protap yang saya tentukan pada Hak Kekayaan Intelektual saya di Ditjen Haki Kemenkumham. Agar mutu konsisten.


Ilmu hikmahnya, bahwa dalam kita " merintis bisnis " sebaiknya ada kajian data intelijen pasar juga kajian data intelijen bahan baku. Agar sesuai harapan. Agar terprediksi dan terantisipasi sejak dini. Tentu pada pra investasi.


Solusinya ?


Kita sungguh bersyukur jumlah start up Indonesia 2.562, data 11 Januari 2024. Peringkat ke 1 terbanyak di Asia Tenggara. Peringkat ke 6 di dunia. Ini luar biasa. Anak Muda Pemilik Indonesia Emas.


Semoga tidak seperti tahun - tahun sebelumnya. Dari jumlah start up 2.400-an, hanya maks 5 orang saja yang bisa bertahan jadi entrepreneur. Sisanya gagal. Ironisnya karena berhenti justru saat gagal. Bukan saat sukses agar punya legacy indah.


Padahal ibarat kita jalan. Umumnya orang berhenti bisnis pada ruas di depan pintu gerbang jalan tol menuju sukses. Sudah punya pengalaman usaha. Punya ilmu hikmahnya. Tinggal tetap melangkah berbekal dari ilmu hikmah yang dimilikinya.


Empiris, saya awali bisnis juga dari nol. Berulang kali ditolak. Berulang kali tertipu. Berulang kali kena musibah alam. Berulang kali salah estimasi. Semua mendidik agar makin punya ilmu eling waspodo, bukan hanya punya ilmu sembrono saja.


Pendek kata, jangan pernah berharap jadi entrepreneur/pebisnis/pengusaha jika tiada pernah gagal dan gagal. Itu harus dilalui karena itu proses pembekalan ilmu bisnisnya. Itu pembekalan mentalnya. 


Tinemune ilmu kanti laku/ketemunya ilmu bisnis/usaha jika sudah dijalani.



Salam 🇮🇩

Wayan Supadno

Pak Tani

HP 081586580630


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)